10 Lebih Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Banyak orang yang masih tidak tahu dengan tabel perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional. Minimnya info mengenai pola yang tidak sama di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional membuat mayoritas tidak yakin dengan sistem yang diaplikasikan pada asuransi syariah yang dirasa tidak sama dengan syariat Islam. Apa sebetulnya ketidaksamaan fundamental di antara asuransi syariah dan konvensional ini? Kesempatan ini Asuransi Karyawan akan menerangkan dengan detil ketidaksamaan asuransi syariah dan konvensional.

1. Konsep Dasar Asuransi Syariah dan Konvensional

Apakah itu asuransi syariah? Apa itu yang dimaksud dengan asuransi syariah? Menurut Dewan Syariah Nasional, pengertian asuransi syariah ialah sebuah usaha untuk saling membuat perlindungan dan bekerja bersama-sama di antara beberapa orang. Ini didasari dengan investasi berbentuk asset atau tabarru’ yang memberi skema pengembalian untuk hadapi resiko tertentu lewat ikrar yang sesuai syariat Islam. Contoh mekanisme yang diterapkan dalam asuransi syariah memungkinkannya beberapa peserta untuk menghibahkan sebagian atau semua kontribusi yang akan dipakai untuk bayar klaim apabila ada peserta yang lain terkena bencana . Maka, dalam asuransi syariah ini fungsi perusahaan asuransi hanyalah sebatas pengelolaan operasional dari beberapa dana yang diterima. Itu perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang paling fundamental (bukan persamaan).

2. Ikrar atau Prosedur Persetujuan

Disamping konsep dasar, ada ketidaksamaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang cukup mendasar dari prosedur kesepakatan atau ikrar di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. Pada asuransi syariah, ikrar sebagai dasar mekanisme kesepakatan ialah ikrar takaful. Ikrar ini sebagai ikrar bekerja bersama-sama yang memungkinkannya beberapa peserta asuransi untuk menolong peserta yang lain dengan dana sosial (tabarru’) yang sudah dihimpun oleh faksi asuransi syariah. Dan pada asuransi konvensional, konsep dasar yang dipakai ialah ikrar tabaduli, yakni ikrar jual-beli. Ikrar ini harus ada kepastian dalam banyak hal seperti konsumen, penjual, object yang diperjual-belikan, harga, dan ijab qabul. Ke-2 faksi mengerti dan menyepakati transaksi bisnis yang terjadi.

Beberapa ikrar yang ada di asuransi syariah dan sudah sesuai ketetapan Dewan Syariah Nasional diantaranya:

  • Ikrar tabarru’, yakni peserta memberi dana hibah untuk membantu peserta yang lain yang terkena bencana. Perusahaan asuransi bertindak selaku pengurus dana atas dasar ikrar wakalah.
  • Ikrar wakalah bil ujrah, yakni peserta memberi kuasa ke perusahaan asuransi dengan imbalan berbentuk ujrah. Perusahaan bertindak selaku wakil untuk mengurus dana, dan peserta bertindak selaku pemberi kuasa untuk mengurus dana. Perusahaan asuransi waji menginvestasikan dana sesuai syariah dan bila ingin memperoleh imbalan berdasar persetujuan awalnya.
  • Ikrar Mudharabah, yakni perusahaan bertindak selaku pengurus dan peserta bertindak selaku shahibul mal. Peserta memberi kuasa pada pengurus untuk mengurus dana tabarru’ sesuai kuasa dan kuasa yang diberi dengan memperoleh imbalan untuk hasil yang sudah disetujui Bersama.
  • Ikrar Mudharabah Musytarakah, yakni kombinasi ikrar Mudharabah dan Ikrar Musyarakah yang memungkinkannya perusahaan asuransi untuk mengikutkan dana yang dipunyai dalam investasi bersama dengan dana peserta. Nanti keuntungan akan dipisah secara seimbang di antara perusahaan dan peserta.
  • Al-Qardh-Al-Hasan, sebagai utang murni dari dana perusahaan asuransi ke dana tabarru’ bila terjadi minus underwriting. Ini terjadi bila dana tabarru’ tidak memenuhi untuk bayar santunan asuransi.
Baca Juga  Bekerja Tanpa Asuransi, Apa Yang Sebaiknya Anda Persiapkan?

3. Prosedur Kepemilikan Dana

Menurut Brainly, ketidaksamaan asuransi syariah dan asuransi konvensional pdf seterusnya berada pada mekanisme pemilikan dana. Mekanisme pemilikan dana yang ada di asuransi syariah mengaplikasikan pemilikan dana bersama atau mungkin dana kelompok beberapa pesertanya . Maka, bila peserta alami bencana, karena itu peserta lain akan menolong memberi santunan lewat kelompok dana tabarru’. Ini ialah sisi dari konsep share of risk. Dan pada asuransi konvensional, konsep share of risk ini tidak berlaku. Perusahaan asuransi konvensional akan mengurus dan tentukan dana perlindungan nasabah yang berasal dari pembayaran premi bulanan.

4. Pengelolaan Dana (Secara Umum)

Perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang lain ialah dari sisi pengelolaan dana. Pada asuransi syariah, dana yang ada ialah milik semua peserta dan perusahaan hanya berperanan sebagai pengurus dana tanpa ada hak milik. Dana ini nanti akan diatur semaksimal kemungkinan untuk keuntungan peserta asuransi dengan metode terbuka. Dalam pengendalian dana syariah harus juga mengikutsertakan objek halal dan jangan mengandung ketidakpahaman baik secara hukum, fisik, dan faktanya. Semua harus sesuai syariat Islam. Dan pada asuransi konvensional, dana premi yang telah dibayar oleh nasabah akan diatur sama sesuai kesepakatan. Misalnya diarahkan untuk biaya investasi atau pertimbangan lain sesuai dengan jenis produk asuransi yang diputuskan untuk memperoleh keuntungan optimal.

5. Wujud Investasi dan Pengelolaan Instrument Dana Investasi

Salah satunya ketidaksamaan di antara asuransi umum dengan asuransi syariah ialah dari wujud investasi dan pengelolaan dana. Dari sisi wujud investasi dan pengelolaan instrumen dana investasi di antara asuransi Syariah dan asuransi konvensional mempunyai ketidaksamaan yang lumayan besar. Dalam asuransi syariah, investasi tidak dapat dilaksanakan pada beragam usaha yang berlawanan dengan konsep syariah dan memiliki kandungan unsur haram. Beberapa persyaratan wujud investasi usaha yang dilarang dalam asuransi syariah ialah:

  • Permainan judi dan permainan yang tergolong ke dalam judi.
  • Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, dan perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu.
  • Jasa keuangan ribawi seperti bank berbasiskan bunga dan perusahaan pendanaan berbasiskan bunga.
  • Jual-beli resiko yang memiliki kandungan unsur ketidakjelasan atau judi.
  • Produksi, distribusi, dan perdagangan atau pengadaan berbagai barang haram sama seperti yang sudah diputuskan oleh DSN-MUI, dan melakukan transaksi bisnis suap.

Ketetapan investasi yang cukup ketat di atas tidak terjadi dalam asuransi konvensional. Dalam asuransi konvensional, konsep dasarnya ialah mengerjakan berbagai jenis investasi dalam instrument yang mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya untuk perusahaan tanpa memperhitungkan haram ataupun tidaknya instrument investasi yang dipilih. Ini menjadi tanggung-jawab perusahaan karena dana yang diatur semuanya ialah punya perusahaan asuransi dan bukan pemilik polis seperti asuransi syariah.

6. Pengawasan Dana

Ketidaksamaan asuransi syariah dan konvensional yang lain berada pada pemantauan dana. Asuransi syariah mengikutsertakan faksi ke-3 sebagai pengawas aktivitas asuransi yakni Dewan Pengawas Syariah yang hendak bekerja memantau proses transaksi bisnis perusahaan supaya masih tetap menggenggam konsep syariah. Adapun Dewan Pengawas Syariah bertanggungjawab langsung ke Majelis Ulama Indonesia. Dan pada asuransi konvensional, tidak ada tubuh pengawas khusus untuk mengatur semua aktivitas dan transaksi bisnis perusahaan. Semua aktivitas yang sudah dilakukan oleh asuransi konvensional dengan cara resmi harus patuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga  Asuransi Untuk Keluarga Muda

7. Pengendalian Resiko

Sumber photo: Ju PhotoStocker lewat ShutterstockPrinsip dasar asuransi syariah ialah aktivitas beberapa kumpulan orang yang hendak sama-sama tolong dan bantu-membantu dengan kumpulkan dana hibah (tabarru’). Sama ini karena itu pengendalian resiko dilaksanakan dengan konsep share of risk, yakni resiko ditanggung ke perusahaan dan peserta asuransi tersebut. Ini berlainan dengan asuransi konvensional yang berlakukan konsep transfer of risk, yakni resiko ditanggung oleh peserta asuransi pada pihak asuransi yang bertindak selaku penanggung dalam kesepakatan yang sudah disetujui dalam polis.

8. Istilah Dana Hangus

Dalam asuransi, dikenali istilah Dana Hangus yang hendak terjadi bila tidak ada claim dalam periode masa yang disetujui. Misalkan dana hangus pada asuransi perjalanan saat trip sudah digenapi atau asuransi properti hangus saat periode polis usai. Istilah Dana Hangus tidak ada pada asuransi syariah. Dana yang sudah diserahkan ke perusahaan asuransi masih tetap dapat diambil walau nanti ada sejumlah kecil yang diikhlaskan sebagai dana tabarru’. Bila peserta tidak mampu meneruskan asuransi syariah, pendapatan tetap dapat diambil seutuhnya sesuai jumlah yang sempat dibayar. Dan dana hangus pada asuransi konvensional ialah suatu hal yang jelas. Dana langsung akan hangus saat masa polis usai, tidak mampu bayar premi jalan, dan ketetapan yang lain yang sudah disetujui pada awal kesepakatan.

9. Surplus Underwriting

Ketidaksamaan asuransi syariah dan asuransi konvensional seterusnya ada di surplus underwriting. Surplus underwriting ialah dana yang dikasih ke peserta bila ada kelebihan dana dari rekening sosial, terhitung dari penghasilan lain sesudah dikurangkan dengan pembayaran claim atau santunan dan hutang bila ada. Pada asuransi syariah, mekanisme surplus underwriting diberi untuk semua peserta asuransi dan pembagian keuntungan memiliki sifat prorata. Dan pada asuransi konvensional, tidak ada pembagian keuntungan surplus underwriting, tetapi ada istilah no-claim bonus pada beberapa produk asuransi yaitu pemberian ganti rugi ke nasabah jika tak pernah lakukan claim dalam periode waktu tertentu.

10. Kewajiban Wakaf dan Zakat

Pada asuransi syariah berlaku istilah wakaf dan zakat, dan pada asuransi konvensional tidak ada. Ini jadi ketidaksamaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang cukup kelihatan. Pembayaran polis dapat dikasih ke pewaris sesuai ketetapan yang berjalan. Pada intinya, pemahaman wakaf ialah penyerahan hak punya atau harta benda yang bertahan lama ke yang menerima wakaf atau nazir dengan arah untuk manfaat umat. Karena wakaf mempunyai faedah pelindungan, karena itu peserta asuransi dapat mewakafkan faedah asuransi berbentuk santunan wafat dan nilai tunai polis. Dan zakat ialah harga tertentu yang harus diberi oleh umat Islam ke kelompok yang memiliki hak menerimanya seperti fakir miskin. Zakat wajib dalam asuransi Syariah diambil dari besarnya keuntungan perusahaan.

11. Konsep Pembayaran Claim Polis dan Service

Berikut ketidaksamaan asuransi syariah dan asuransi konvensional dilihat dari konsep claim polis dan service.

a. Mekanisme Penelusuran

Mekanisme pencairan dan claim polis di antara asuransi syariah dan asuransi konvensional cukup berlainan. Pada asuransi syariah, pencairan dana tabungan bersama akan dilaksanakan untuk bayar claim nasabah. Polis dapat diatasnamakan per keluarga pokok seperti ayah, ibu, dan anak. Semua keluarga dapat memperoleh pelindungan rawat inap rumah sakit dan akan dibayar dalam mekanisme cashless atas semua bill yang ada tanpa tutup peluang ganda claim pada asuransi lain. Dan mekanisme pencairan pada asuransi konvensional akan memikul claim dari dana perusahaan sesuai polis yang berjalan. Polis yang memiliki sifat pribadi cuman dapat diatasnamakan oleh seseorang saja, terkecuali faedah polis tertentu yang mempunyai sarana keluarga.

Baca Juga  Cukupkah Hanya Dengan Perlindungan Satu Asuransi Saja?

b. Pemegang Polis

Pada asuransi syariah, pemegang polis dapat didaftarkan untuk sekeluarga dan akan memperoleh faedah sekalian. Dan pada asuransi konvensional, pemegang polis cuman dibolehkan seseorang saja.

c. Faedah Ganda Claim

Asuransi Syariah memberi faedah ganda claim untuk beberapa pesertanya dan keluarga . Maka peserta dapat manfaatkan pelindungan rawat inap di rumah sakit untuk semuanya bagian keluarga. Satu polis dapat dipakai untuk sekeluarga dengan memakai kartu. Ini akan membuat premi tambah murah dibanding dengan asuransi konvensional yang mewajibkan satu polis untuk seseorang saja. Pada asuransi syariah bekerja bersama dengan BPJS untuk lakukan ganda claim. Tetapi faedah ganda claim ini cuman berlaku pada beberapa asuransi syariah tertentu saja hingga beberapa peserta harus cermat dalam cari asuransi syariah yang memberi faedah ganda claim. Pada asuransi konvensional, tidak ada ganda claim tetapi ditukar dengan koordinir faedah.

Pada koordinir faedah, asuransi akan bayar tersisa bill yang belum dibayar oleh asuransi awalnya. Dan bekasnya tidak ditanggung karena peserta up-grade ke kamar yang semakin tinggi. Dengan pola koordinir faedah ini, asuransi konvensional tetap memerhatikan porsi plafon optimal. Dan pada ganda claim, asuransi langsung akan bayar sama sesuai plafon tanpa memerhatikan berapakah tersisa bill yang belum dibayarkan BPJS.

12. Pembagian Keuntungan

Pada asuransi syariah, keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan berkaitan dana asuransi akan dibagi ke semua peserta asuransi. Tetapi pada asuransi konvensional, semua keuntungan yang didapat bisa menjadi punya perusahaan asuransi. Kontributor asuransi syariah jadi punya semua peserta untuk bayar claim. Dalam pola ini, ada dua peluang yang hendak terjadi pada asuransi syariah, yakni kontributor semakin besar dari jumlahnya claim hingga hasilkan surplus keuntungan, atau claim semakin besar dari jumlahnya kontributor hingga alami minus keuntungan. Surplus keuntungan dipisah dengan ketetapan, 60% ditahan dalam saldo tabarru’, dan 30% dikasih ke peserta, dan 10% ke perusahaan asuransi. Bila alami minus keuntungan, karena itu dana akan diambil dari saldo tabarru. Tetapi jika kurang, utang ikrar Qardh ke perusahaan asuransi akan tutup minus. Sepanjang masih minus, karena itu pembagian surplus keuntungan tidak dilaksanakan.

13. Kontrak dan Kesepakatan

Dalam asuransi syariah, ikrar yang dipakai ialah hibah (tabarru’) yang didasari pada mekanisme syariah dan ditegaskan kehalalan. Dan pada asuransi konvensional, ikrar yang sudah dilakukan condong sama dengan kesepakatan jual-beli.

Pemantauan

Dalam soal pemantauan, asuransi syariah memperoleh pemantauan dengan ketat oleh Dewan Syariah Nasional yang dibuat langsung oleh Majelis Ulama Indonesia dan akan dikasih pekerjaan untuk memantau semua wujud penerapan konsep ekonomi syariah di Indonesia. Keluarkan fatwa dan hukum berkenaan asuransi syariah sebagai pekerjaan dari Dewan Syariah Indonesia. Perwakilan Dewan Syariah Nasional akan ditaruh setiap instansi syariah dan pastikan instansi itu bekerja sesuai konsep syariah yang berjalan. Pekerjaan dari Dewan Syariah Nasional terhitung dalam memantau operasional asuransi syariah dan mengangsung wujud harga yang diasuransikan supaya terlepas dari elemen haram dan faedah yang dibuat olehnya. Proses pemantauan semacam ini tidak diketemukan pada asuransi konvensional. Objek yang diasuransikan tidak jadi sebuah permasalahan karena konsentrasi perusahaan ialah nilai dan premi yang diputuskan dalam kesepakatan asuransi itu.