Sakit Kritis

Seorang karyawan baik staff maupun direktur bekerja tentu saja untuk mendapatkan gaji atau penghasilan yang akan di gunakan untuk biaya hidup keluarga, membayar cicilan – cicilan bulanan yang secara berkala harus tetap di bayar, lalu apakah seorang karyawan membutuhkan perlindungan asuransi sakit kritis yang memadai untuk seorang karyawan.

Pada umum nya seorang karyawan telah dilindungi perlindungan kesehatan dari tempat dimana dia bekerja, asuransi itu dari asuransi pemerintah maupun dari asuransi swasta. Apabila sakit kritis menimpa seorang karyawan tentu saja karyawan itu sendiri beranggapan seluruh biaya perawatan selama mengidap sakit kritis sudah di cover oleh pihak asuransi yang di beli perusahaan nya secara corporate.

Akan tetapi tahu kah anda sebenarnya fungsi asuransi sakit kritis untuk apa? Banyak orang beranggapan asuransi kiritis itu untuk mengcover biaya perawatan selama di rumah sakit. Jawaban dari beberapa orang tersebut tidak salah dan ada benar nya. Padahal bukan seperti itu fungsi utama dari asuransi sakit kritis itu sendiri.

Tahukah anda apabila seorang karyawan yang mengidap sakit kritis bisa kehilangan gaji atau penghasilan nya dari perusahaan tempat mereka bekerja?

Menurut Undang – undang ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 93 Tentang Sakit Kritis

Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampai dengan keselamatan dan kesehatan kerja.  Lebih lengkapnya UU No.13/2003 mengatur mengenai hal yang berkaitan dengan pekerja yang sakit dalam pasal 93, 153, 156 dan 172.

Didalam pasal 93 ayat 3 sudah jelas di jelaskan sebagaimana dimaksud tentang persentasi penerimaan gaji karyawan apabila menderita sakit yang berkepanjangan yang tidak sembuh – sembuh sampai batas waktu 16 sampai dengan 20 bulan dan perusahaan mempunyai hak untuk PHK karyawan tersebut yang sudah tidak produktif dengan membayarkan hak – hak nya seorang karyawan berupa uang pesangon sesuai perundang – undangan ketenagakerjaan.

Berapa Besar Persentasi Gaji Karyawan Yang Didapatkan Pada Saat Sakit Kritis?

Sakit berkepanjangan bukanlah keinginan pekerja, jadi upah kerja tetap harus dibayarkan oleh perusahaan. Berdasarkan pasal 93 Undang-undang No.13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan, upah yang dibayarkan kepada pekerja yang sakit adalah :

  1. untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus perseratus) dari upah;
  2. untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari upah;
  3. untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar 50% (lima puluh perseratus) dari upah; dan
  4. untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha.

Jadi, sebenarnya perusahaan berkewajiban akan upah pekerjanya selama sakit, hanya perbedaan jumlah upah yang diberikan disesuaikan dengan waktu lama sakit karyawan seperti yang dijelaskan di atas.

Artikel Terkait :

Asuransi Kesehatan Terbaik Tahun 2019
Asuransi Kesehatan Rawat Inap Karyawan VIP
Asuransi Jiwa Karyawan Terbaik Saat Ini


Disini lah sebenarnya fungsi utama dari asuransi sakit kritis yaitu apabila seorang karyawan sakit berkepanjangan lebih dari 16 bulan maka mulai menghilang nya penghasilan nya yang hanya dibayarkan 25% dari penghasilan awal nya. Lalu bagaimana dengan membayar semua cicilan yang ada apalagi ditambah dengan kondisi yang sudah tidak sehat yang memerlukan biaya besar untuk pengobatan.

Dengan memiliki perlindungan uang pertanggungan asuransi sakit kritis dapat di gunakan untuk membayar hutang – hutang yang selama ini ada mulai dari hutang cicilan kartu kredit, cicilan kredit mobil sampai dengan cicilan kredit rumah yang anda tempati sekarang, mengingat sampai saat ini perlindungan cicilan hutang tersebut belum ada proteksi sakit kritis nya terkecuali debitur meninggal dunia maka hutang – hutang tersebut bisa lunas. Tragis nya ada juga debitur pemegang kartu kredit yang tidak menjaminkan diri nya terhadap asuransi jiwa di dalam cicilan billing statement nya yang mengakibatkan hutang nya di wariskan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Written by